Insight

Uncategorized No Comments »

Menulis itu terapi. Buktinya? Setelah menulis dua curhatan di blog ini sebelumnya, setelah membaca-membaca lagi tulisan itu, saya mendapat pencerahan. Intinya sih…… hahahah…. saya merasa tulisan yang kemarin saya tulis itu kok sedikit konyol ya?

Semalam saya bertanya pada diri sendiri, “Bayangkan bila kau benar-benar keluar dari Psikologi, berhenti mengajar, tidak melakukan praktek sama sekali, dan fokus kepada badminton; bagaimana perasaanmu?”

Saya kemudian memperolehan jawaban : sudah pasti saya akan merindukan psikologi dengan sangat. sudah pasti ada kepuasan batin yang hilang dari dalam diri saya. Dan saya tidak menginginkan hal itu terjadi. Katakanlah, di masa depan, saya sukses menjadi jurnalis badminton ternama, namun kemudian ‘karir’ kepsikologian saya kacau balau, wah ya jelas kepuasan batin tidak tercapai.

After all, saya menikmati psikologi, sama halnya dengan saya menikmati badminton.

Memenuhi panggil hati

Uncategorized No Comments »

Memenuhi panggilan hati. Itulah yang akan saya lakukan. Sepertinya saya sudah menemukan solusi yang tepat untuk menjawab curhatan saya dalam tulisan sebelumnya.

Saya akan melakukan keduanya, untuk sementara. Saya tetap bekerja full sebagai akademisi, namun saya juga akan menjadi kontributor bulutangkis. Dengan catatan : kontributor itu hanya pekerjaan sampingan dan tentu saja pekerjaan kantor harus tetap didahulukan.

Meski sudah sering mendengar orang berkata, “Materi bukan masalah selama batin terpuaskan”, tapi baru kali ini saya benar-benar menyadari maknanya. Teknisnya begini. Saya belum tahu situs an majalah badminton mana yang akan menggunakan jasa saya sebagai kontributor. Oleh sebab itu saya akan memulai dari bawah. Dari jalur amatir nan independen.

Saya akan membiayai sendiri keberangkatan saya ke turnamen badminton, melaporkan hasilnya, dan mengirim laporan pertandingan ke beberapa situs. Syukur-syukur kalau dimuat. Saya sih optimis, beberapa situs badminton dalam negeri akan memuat tulisan saya. Ketika saya sudah sering wira-wiri memposting tulisan, siapa tahu saya akan dihire secara resmi oleh mereka sebagai kontributor hehehe.

Karena judulnya “membiayai sendiri”, maka tidak semua turnamen badminton akan saya jelajahi, terutama tentu yang berada di luar negeri. Selain Indonesian SS, tentu turnamen luar negeri yang sejauh ini bisa saya jangkau adalah Malaysia SS dan Singapura SS. Kalau nanti saya punya kenalan host yang bersedia saya tumpangi secara gratisan, mungkin saya akan menjajal turnamen eropa juga.

Bagaimana dengan pekerjaan di kantor?

Selama meliput turnamen, saya akan mengajukan cuti, sesuai dengan hak cuti tahunan saya selama 12 hari dalam setahun. Bila hak cuti telah habis, kantor tempat saya bekerja memiliki ketentuan untuk memotong penghasilan sejumlah tertentu berdasarkan jumlah hari dimana pada saat tersebut kami tidak hadir (selain sakit, cuti di melahirkan, dll). Saya siap menerima konsekuensi itu. Dengan catatan : saya telah menyelesaikan seluruh pekerjaan saya sebelum “cuti” dari kantor. Komitmen saya, pekerjaan kantor tetap saya dahulukan daripada badminton.

Lagipula, sebuah turnamen badminton hanya membutuhkan waktu penyelenggaraan selama 5 hari. Dimulai hari rabu dan berakhir di hari minggu. Siiip deh. Itu artinya kan saya nantinya hanya “off” dari kantor selama tiga hari, karena ketika week end kantor libur.

Malaysia SS sudah dimulai awal Januari ini. Sudah terlewat untuk berangkat ke sana. Untuk langkah awal, saya akan berkonsentrasi ke Indonesia SS. Kalau ada kesempatan, mungkin saya akan ke Singapura SS juga tahun ini. Tapi sepertinya, rencana saya menjelajah turnamen badminton baru akan saya wujudkan awal 2010 karena masih ada “hutang” target-target pekerjaan yang harus saya selesaikan tahun ini.

Pilihan-pilihan

Uncategorized No Comments »

Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Tak jarang, semua pilihan yang ada terasa sangat menarik dimata kita. Minat dan kecenderungan kita terhadap semua pilihan tersebut memiliki kadar yang setara. Ini yang membingungkan. Di satu sisi, kita ingin menjalani semuanya. Namun tentu hal itu sangat sulit dilakukan, tanpa mengorbankan pilihan yang lain.

Psikologi, Badminton, dan Menulis.

Akademisi, praktisi, pekerja sosial, reporter badminton, penulis lifestyle.

Saya menginginkan semuanya. Saya ingin mencoba semuanya.

————————————————————

Saat ini saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di dalam kampus, sebagai akademisi junior tentunya. Meski saya menyukai pekerjaan ini, bekerja dengan sistem office hours, tak urung membuat saya merasa jenuh. Ketika kejenuhan melanda, apapun bisa timbul dalam pikiran. Saya sempat mempertanyakan, benarkah ini jalan hidup yang saya inginkan? Bagian dari diri saya yang lain masih memimpikan sebuah petualangan menjelajah satu turnamen ke turnamen lain sebagai seorang jurnalis badminton. Pun, tak dapat saya nafikan, bahwa terkadang saya iri melihat teman-teman di milis Badminton melaporkan pandangan mata apa yang terjadi di stadion. Dalam perenungan panjang mengenai badminton, sisi hati saya yang lain mengetuk. Mengingatkan bahwa betapa dulu saya memiliki idealisme untuk mengamalkan ilmu psikologi saya kepada masyarakat secara gratis. Idealisme yang saya istilahkan dengan, “Learn More, Get More, and Contribute More”.  Bila saya berkarir secara penuh di Badminton, sudah tentu saya tidak bisa maksimal melakukan “Contribute More” ini.

Ada pilihan dan minat lain lagi dalam diri saya. Saya ingin bergabung dengan KOMPAS Minggu. Saya ingin menjadi kontributor untuk bidang Lifestyle mereka. Hemm, lifestyle disini maksudnya bukan fashion lho, tapi lebih kepada gaya hidup dan fenomena sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Saya pun masih memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku tentang dunia kru film, tempat dimana saya lahir dan dibesarkan.

————————————————————–

Jenuh dengan segala rutinitas kantor membuat saya akhir-akhir ini berpikir untuk mengajukan cuti diluar tanggungan selama satu tahun. Dalam masa cuti itu saya ingin sekali menggembel di eropa. Melakukan pekerjaan apapun, asal tidak berbau-bau psikologi hahaha…. termasuk mencoba menjadi koresponden Badzine untuk wilayah eropa tentunya. Oia, Badzine adalah salah satu situs badminton ternama di dunia yang memiliki koresponden resmi di sejumlah negara. Dengan menjauhkan hati saya sementara dari psikologi, saya berharap kerinduan itu akan muncul. Kerinduan untuk kembali kepada psikologi. Tapi tentu saja rencana ini amat sangat mustahil. Prof JU tidak akan mau memberikan cuti selama satu tahun, meski diluar tanggungan, kepada stafnya tanpa alasan yang jelas. Well, apalagi kalau beliau tahu bahwa saya hanya ingin sekedar menggembel di eropa hehehe….

—————————————————————

Kejenuhan saya sedikit terobati dengan jalinan pertemanan saya dengan orang-orang MBI (Masyarakat Badminton Indonesia). Mereka bukan orang psikologi dan tentunya tidak membicarakan psikologi dalam obrolan di milis. Hahah… ini dia yang seedang saya butuhkan saat ini.

Saya juga sedang menikmati pertemanan dengan om Antok, salah seorang rekan MBI, melalui facebook. Om Antok memiliki latar pendidikan di bidang perhotelan dan sudah melanglang buana ke sejumlah hotel ternama. Saat ini beliau tinggal di Swiss. Oia, om Antok juga memiliki latar budaya yang berbeda dengan saya. Melihat facebooknya, saya menilai om Antok sebagai sosok yang friendly dan open minded, serta memiliki minat yang luas pula. Ini juga didukung fakta bahwa beliau adalah seorang self-employment (based on recent info @ facebook lho). Tak heran, om Antok ini masih sempet-sempetnya ikut lari marathon, menjadi jurnalis badminton, mengeksplore budaya eropa, padahal main majornya adalah perhotelan.

Thanks om telah mengundang dan memotivasi saya untuk bergabung di Facebook. Terlalu lama berkutat dengan Friendster, membuat saya menampik tawaran bergabung dengan facebook yang sebelumnya ditawarkan oleh teman-teman saya hahaha….

Mungkin suatu saat saya akan berhenti sebagai pekerja tetap agar bisa melakukan banyak hal seperti om Antok. Namun ketika ide ini muncul, hati saya kembali mengetuk. Mengingatkan bahwa saya ingin do something untuk kantor. Ingin ikut mengembangkan universitas ini (hehehe……). Yeah, nanti setelah fakultas ini sudah eksis, sepertinya saya akan pensiun dini.

Parenting dan Pengabdian Masyarakat :))

Uncategorized No Comments »
Alhamdulillah seminar dan In house training bertema : Agar Anak Asyik Belajar, yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumah Cinta, telah berlangsung dengan sukses siang tadi.
Hadir sebagai narasumber adalah Ibu Irawati Istadi, penulis sejumlah buku parenting. Dalam sesi pertama acara ini, beliau membedah salah satu buku yang ditulisnya, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi.
Pada sesi kedua, barulah narasumber selanjutnya hadir. Jreng-jreng… siapa lagi kalau bukan Mbak Metta tercinta, psikolog handal dari YARSI. Mbak Metta mengajak audiens untuk berlatih membuat mind mapping dan senam otak. Berikutnya, nyempil dipenghujung acara, saya memaparkan secara global dan praktis mengenai hipno-parenting sederhana.
Ada beberapa insight menarik yang saya dapatkan dari acara ini:
1. Karena baru pertama kali diminta sbg salah seorang pemateri (meski cuma nyempil doang hehe) dalam kegiatan bertema “Parenting”, saya sempat hunting buku Parenting ke Gramedia (sebelum akhirnya memutuskan utk mengangkat topik hipno-parenting).
Yang menarik, ternyata, buku-buku Parenting dan organisasi ke-parenting-an lebih banyak dibidani oleh “bapak-bapak” dengan latar belakang non-psikologi (misalnya dari teknik atau ekonomi). Ironisnya, orang-orang psikologi sendiri masih berkutat pada bidang yang itu-itu saja : psikotes-psikotesan. (Yeah, saya termasuk salah satunya sih hehehe…mudah-mudahan setelah ini saya bisa lebih kreatif lagi). Wahaiii, insan psikologi, masih banyak sekali bidang yang bisa kita jamah selain psikotes :))
2). Menjadi orang tua itu tidak sekedar beranak dan membesarkan anak. Mudah-mudahan, organisasi ke-parenting-an, seperti Komunitas Rumah Cinta ini, bisa menjangkau pelosok kampung, minimal di Jabodetabek dulu deh. Karena di pelosok masih banyak para orang tua yang belum efektif mengasuh anak. Saya juga mau kok kalau diminta jadi relawan.
3. Setelah mengikuti acara ini, saya jadi lebih terpacu lagi untuk membaca artikel psikologi populer dari koran atau buku. Mengapa? sebab pertanyaan hadirin lebih banyak mengenai masalah-masalah praktis. Untung tadi, ada Mbak Metta juga, yang sudah berpengalaman menjadi Ibu, untuk menjawab pertanyaan hadirin. Jadi saya tinggal melengkapi jawaban yang diberikan mbak Metta sedikit-sedikit hehehe…
For Your Information, partisipasi Psiko Univ. YARSI sebagai narasumber dalam seminar yg diselenggarakan Komunitas Rumah Cinta ini, merupakan bagian dari program kegiatan Pengabdian masyarakat.
Selain kegiatan tsb, dalam minggu ini Psi YARSI telah mengadakan pelatihan Appreciative Inquiry bagi guru2 Al Khairiyah dengan trainer, rekan kita tercinta (hehe), Endang F.
Lalu sebelumnya, di SMA 6 Jakarta, Mba Metta dan Mba Entin (dibantu co-trainer mahasiswi FPSI, yaitu Liqa dan Karina ‘08) memberikan pelatihan Anger Management bagi siswa-siswinya.
Sebelum itu, fakultas psikologi juga diminta untuk memberikan pelatihan bagi Senat Mahasiswa FTI di bogor dengan trainer, Gia, mba Metta, dan saya sendiri.
Terimakasih atas bantuan rekan-rekan semua. Mudah-mudahan program Pengabdian masyarakat F Psi YARSI (sebagai salah satu dari Tridharma Perguruan Tinggi) dapat dilanjutkan dengan berkesinambungan.
Memang minggu ini sangat padat dan hectic sekali, tapi kami puas dapat memberikan pelayanan pada masyarakat.
Untuk informasi,
hubungi Fakultas Psikologi Univ. YARSI
(021) 422 31 38.

My funny brother

Uncategorized  Tagged No Comments »
Hemmm…. berikut ini adalah cuplikan tulisan yang dibuat oleh my youngest brother di buletin board friendsternya. Sengaja saya copy paste disini karena…. lucu abish hahaha. Ini kisah ketika dia mengumumkan nomer hp-nya yang baru. Tertarik mengundang dia perform freestyle? silahkan hubungi langsung nomernya!
Ipang wrote:
dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

yang telah memberikan Ipank sebuah Mukjizat

berupa kaki yang panjang, lentur, ringan, dan tidak berbulu,

yang mana daripada kaki tersebut,

Ipank akhirnya kesampean juga punya hape baru…

 

walaupun hapenya murahan,

gak ada fitur apa-apanya,

jadul, katro, kuno, ndeso, pasaran,

pokoknya masih kalah deh dari hape-hape lu pada…

tapi bagi gw hape ini lebih punya TASTE!!!

 

banyak cewe2 yang minta nomer hape gw…

tapi gw bilang gw gak punya hape,,,

muka gw mau ditaro dimana???

hiks…

 

mungkin,

gw satu-satunya anak umur 18th yang gak punya hape di Indonesia…

hiks,

 

(malang nian nasib mu nak…)

 

tapi sekarang gw udah punya hape lagi!!!

mau tau nomor hape gw??

serius nih pengen tau??

 

abis diliat, langsung dicatet ya!

disimpen namanya IpankFreestyle!

 

mau tau nomor hape gw??

yakin nih??

tarik kebawah lagi deh!

 

terus…

teruuss…

 

liat profile gw,

nomor hape gw ada di paling bawah profile gw…

dibawah who i want to meet,

hehehe, thank you! :p

 

ntar qta smsan ya!!

miss you!!

 

Thanks To:

1. 4JJ SWT

2. Kaki gw yang Panjang, Lentur, Ringan, dan Tidak Berbulu

3. Abe Sundoro (Vokalis NEO)

4. Yamaha Motor

5. Ulil & Erwin (Freestyler)

6. Egi a.k.a Sergei Amauri (Pesulap)

Hemmm…. dicoba saja!

Uncategorized 1 Comment »

Desember 2008. Bulan yang sangat padat bagi fakultas kami. Terlebih ketika mba Ade mulai cuti melahirkan dan diakhir tahun sindroma liburan sudah menari-nari, menggoda di depan mata hehe..

Beberapa tawaran pengabdian masyarakat (dari SMU 10 Bekasi dan Panti Asuhan Putra Setia) dengan amat terpaksa dipindahkan waktunya ke bulan Januari 2009, mengingat keterbatasan SDM dan waktu yang kami punyai.

Hanya tawaran mengisi pelatihan dari SMU 6 Jakarta, Senat mahasiswa FTI YARSI, Korps guru Al Khairiyah, dan komunitas rumah cinta, yang dapat kami terima untuk dilaksanakan.

Komunitas Rumah Cinta.

Mereka meminta kami mengadakan pelatihan parenting.

Mengapa kami menyetujui? Karena kami berpikir ini akan sangat bagus sekali untuk mengembangkan networking bagi fakultas, meskipun…. perlu usaha yang ekstra kuat untuk membikin modul dan slide presentasi. Maklum, kami hanya memiliki waktu sekitar seminggu sebelum pelaksanaan pada hari H.

Karena teman-teman sibuk menyiapkan pelatihan Appreciative Inquiry bagi korps guru Al Khairiyah, dan week-end kemarin sudah meluangkan wkatunya untuk menghadapi bermacam-macam tugas dari Universitas maupun fakultas, maka saya berinisiatif membantu membuatkan bahan presentasi. Tentu saja, nantinya yang akan presentasi bukan saya, melainkan mba Metta atau mba Octa hehehe…. secara gitu ya.. saya kan masih single, kan aneh kalau ngomongin soal parenting hoho…

Walhasil…. inilah saya. Sedang sibuk mencari artikel parenting di internet, dan sore nanti rencananya kembali merampok Gramedia Matraman =)

Mengingat betapa luasnya cakupan parenting dan alokasi waktu yang diberikan tidak sampai dua jam (selain dari FPsi YARSI, ada juga pembicara lain), saya belum memutuskan akan mengambil kekhususan apa.

Sebagai orang yang ditugasi mengkoordinir bidang pengabdian masyarakat, rasanya gila juga ya keputusan saya menerima tawaran dari komunitas rumah cinta ini (melalui penghubung ibu Susi Endrini, wakil rektor II); mengingat baru week end lalu kami memberikan pelatihan di luar kota bagi anak-anak FTI.

Tapi menimbang-nimbang unsur promosi dan networking fakultas itu tadi, yo weslah… insya Allah kami sanggup. Toh, mengenai materi, saya sih sudah pengalaman membuat makalah kuliah dengan sistem kebut semalam hahaha…. Jadi sepertinya waktu seminggu ini rasanya cukup kok untuk membuat materi presentasi..

Lost in RSCM

Uncategorized No Comments »

Bila Rachmania Arunita terkenal karena novel dan filmnya yang berjudul Lost in Love, serta Scarlet Johansson berprestasi lewat akting yahuudnya dalam film Lost in Translation, maka saya…. hemmmm cukup menjadi peran utama dalam secuplik adegan berjudul Lost in RSCM!

Yup. Jumat sore lalu saya memang benar-benar Lost in RSCM. Bertanya pada satpam? Well, tidak banyak membantu karena mereka sendiri juga kebingungan.

Walhasil hampir setengah jam sendiri saya muter-muter mencari Departement Rehabilitasi Medik, tempat dimana saya menggantikan mba Octa mengajar di program D3 Okupasi Terapi FKUI.

Hemmm…. sebetulnya ini kali kedua saya mengunjungi Dept Rehab Medik ini. Namun, karena jarak dengan kunjungan pertama sudah setahun lamanya,  walhasil saya sama sekali tidak ingat jalan menuju kesana.

Untunglah ada seorang dokter baik hati, yang akhirnya nekat saya cegat. Dokter itu tidak hanya memberi tahu saya dimana gedung Rehab Medik, namun juga ikut mengantarkan. Hohoho… sebelum kalian pada cuit-cuit nggak jelas, perlu saya informasikan bahwa dokter ini memang bekerja di gedung yang sama namun beda lantai dengan tempat saya mengajar =))

puisi sableng :))

Uncategorized No Comments »

Tuhan,

Kirimkan aku seseorang yang dapat mengingatkanku

bahwa ini hari sabtu dan ini hari minggu..

Tuhan,

Pertemukanlah pula aku dengan seseorang yang dapat mengingatkan bahwa rumah bukanlah tempat mengerjakan pekerjaan kantor,

serta kantor bukanlah tempat bermain Friendster…

Heheheheh

Hemm kalo boleh memilih profesi si soulmate :))

Uncategorized No Comments »

Ini hanya tulisan iseng. Jadi pleaseee…. jangan dianggap serius ya. Tentu saja saya tahu bahwa baik-buruknya orang tidak ditentukan oleh profesinya. Tentu saja saya paham bahwa jodoh itu ditentukan oleh Allah SWT. Hemm… sekali lagi saya hanya iseng berandai-andai.

Bila ditanya, ingin orang dari profesi apakah soulmate a.k.a suami saya kelak? Nah ini dia jawabnya. Nomer urut 1 menandakan rofesi yang paling saya inginkan.

1. Wartawan Olahraga ( Symbol of Dinamism & Enjoying Life. Penjelasan lengkapnya silahkan baca tulisan saya bulan lalu yang berjudul Too Good To Be True).

2. Wartawan KOMPAS Minggu.

3. Musikus.

4. Film Maker.

Naaaahhh…. kalau profesi yang tidak terlalu saya minati sebagai mata pencarian pendamping hidup saya adalah:

1. PNS hehe (Identik dengan birokrasi. Kaku. Nggak easy going. Konvensional. Kecuali kalo ada PNS yang dinamis dan enjoying life).

2. Dosen (idem ditto sama PNS. Eh, kecuali kalo dosennya sama gilanya kayak saya hehehe).

3. Psikolog (alasannya? boseeeeennnn. sumpah. boseen abissssh. Meski saya ini psikolog, tapi nggak sampe segitunya deeeh).

Mengapa Menulis?

Uncategorized No Comments »

Rena (teman serta dosen di FPsi UIN) dan Acel (teman di milis badminton yang sedang menyelesaikan tugas akhir arsitekturnya) menulis “Mengapa Ngeblog” di blog mereka masing-masing.

Tergelitik dengan judul tersebut, saya akhirnya berpikir-pikir sendiri mengenai sebab musabab mengapa saya membuat blog. Jawabannya simple ; karena saya suka menulis. Good.

Lantas pertanyaannya kemudian berkembang menjadi; mengapa saya suka menulis? Lagi-lagi saya menemukan jawaban yang simple : saya tidak tahu. It happen just like that. Jawaban yang sama saya berikan ketika seorang teman bertanya bagaimana tipsnya agar ia bisa lancar menulis seperti saya.  No tips. Bukannya saya pelit membagi ilmu, tapi ya karena memang… it just happen like that. Saya tidak belajar secara formal dan tidak memiliki teknik-teknik tertentu.

Oke. Oke. Bila tidak puas dengan jawaban diatas, baiklah saya akan memberi jawaban yang sedikit filosofis. Saya suka menulis karena Allah itu Maha Adil. Allah itu Maha Menyeimbangkan. Kecerdasan kinestetik saya yang tidak berkembang dengan optimal diseimbangkan dengan limpahan energi dan ide untuk menulis. See? Kinestetik dikompensasikan dengan linguistik. Hehehe…

(Mau tahu seberapa parah kecerdasan kinestetik saya? Nih ya : sejak TK sampai SMA saya selalu mendapat nilai 6 atau C untuk mata pelajaran Olahraga dan Ketrampilan Tangan! Lalu, saya baru bisa menepok shuttlecock dengan tepat ketika berusia 18 tahun – setelah sebelumnya selalu meleset. Dan saat ini saya masih sedikit kesulitan untuk menuruni eskalator).

Meskipun saya senang menulis, but pleaseee…. jangan minta saya untuk menulis cerpen, apalagi puisi. Saya tidak bisa. Saya lupa bagaimana cara menulis cerpen.

Long time ago, ketika kelas 2 SMP, saya memang sering menulis cerpen bersama teman saya, Ria. Mulanya kami hanya iseng-iseng menulis cerita pendek ketika jam pelajaran kosong. Setelah selesai menulis satu buah cerpen, saya dan Ria saling menukar kertas masing-masing dan saling bergantian membaca. Lambat laun, kertas-kertas itu kemudian dibaca bergantian oleh teman-teman yang duduknya berdekatan dengan kami. Selesai membaca satu cerpen, mereka minta dibuatkan lagi. Sampai akhirnya lembaran kertas berganti dengan buku tulis dan jelajah edarnya sudah mencapai teman-teman satu kelas. Dan pada suatu hari, betapa kagetnya kami ketika ada seorang teman dari kelas lain bertanya, “Ada cerpen baru lagi ngga?” Haha… segitu larisnyakah cerpen-cerpen “ngga penting” kami?

Hanya satu tahun saya dan Ria menjadi produsen cerpen. Naik ke kelas III, kami menempati kelas yang berbeda. Kehilangan partner, akhirnya saya sudahi karir saya sebagai penyuplai cerpen. Sekarang??? Saya sudah lupa bagaimana caranya membuat sebuah cerpen! Hehehe…. beneran!

Oke. Kembali mengenai blog.

Pertanyaan mendasar mengapa saya senang nge-blog, dapat saya jawab seperti ini : saya nge-blog sebagai konsumsi pribadi. Sebagai sebuah kisah klasik untuk masa depan. Untuk anak-anak saya.  Mengapa? Karena saya sendiri pada dasarnya senang sekali membaca buku harian atau surat-surat lama Ibu saya. Hehehe…. Nah, karena jaman sudah maju, buku harian dan surat tersebut disubtitusi oleh blog.

Hehehehe….

Begitulah alasannya, saudara-saudara :))


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in